walaupun agak telat, I would like to say CONGRATULATIONS especially to the 3rd Champion of KRCI Robo Soccer Humanoid League :D
Semoga menang lagi di Liga Nasional yaa..aamiiiin
I’m so proud of you <3
:)
Simplicity is not the absence of clutter, that’s a consequence of simplicity. Simplicity is somehow essentially describing the purpose and place of an object and product. The absence of clutter is just a clutter-free product. That’s not simple.
The quest for simplicity has to pervade every part of the process. It really is fundamental.
The philosophy of Jonathan Ive (Apple’s head of design) when it comes to simplicity is something I totally agree with. Knowing ones purpose (or the purpose of something) is indeed central to and the first step towards simplicity.
physical distance sucks, but our distant hearts would suck even more. That’s why I’m never truly away from you :’)
It might sound like a cheesy motivational quote, but it happens!
Hari ini aku seharusnya kuliah sampai jam 3 sore, tapi karena ada dosen yang absen, jadilah kuliah selesai jam 2 siang. Aku yang awalnya berencana akan meminta tolong seorang teman untuk mengurus visa seorang AIESEC intern, akhirnya memutuskan untuk melakukannya sendiri. Pikirku, mumpung masih jam 2 siang, pasti nutut untuk ke kantor imigrasi. FYI, kantor imigrasi terletak di perbatasan Sidoarjo-Surabaya sementara kampusku ada di Surabaya Timur (30-45 menit perjalanan, tergantung traffic).
Akhirnya jam 2.20 aku berangkat dengan harapan bisa sampai di kantor imigrasi sebelum jam 3 sore. Karena bukan waktu orang kantoran pulang kerja, menurutku harapan tadi feasible banget. Tapi ternyataaa… jalanan mulai dari Nginden sampai Jemursari maceett! Belum lagi jalan Ahmad Yani yang padat dan horor (pengendara ngawur dan banyak truk tronton -_-). Jadilah aku sampai di kantor imigrasi jam 3.10 sore. Setelah buru-buru membeli form tambahan dan mengisinya, aku berlari kecil ke loket 1. Ketika sampai, aku langsung ditolak mentah-mentah oleh pegawainya. “Maaf mbak, ini sudah lewat jam 3, saya tidak bisa menerima form lagi,” yang diikuti curcolan tentang betapa banyak kerjaannya hari itu. Aku dulu pernah dilayani di loket ini walaupun jam sudah menunjukkan pukul 3.30 sore, akan tetapi hal itu tidak aku utarakan karena aku tidak mau memicu perang mulut (apalagi aku membawa nama instansi). Dengan langkah lemas dan hati dongkol, aku pun keluar dari kantor imigrasi (dan sempat curhat sama pak parkirnya juga).
Karena sekarang aku sudah terlatih untuk menerima segala unluckiness dengan hati ringan, aku pulang dengan hati yang biasa saja. Dan siapa sangka, perjalanan pulang aku tempuh dengan waktu kurang dari 30 menit! :D Sepanjang perjalanan yang melewati cukup banyak traffic light (sekitar 8), aku hanya berhenti saat lampu merah SATU kali! Bagi kalian yang sangat mobile, such thing like this adalah hal yang sangat membahagiakan!
See! After ease (kelas selesai lebih awal), comes difficulty (ditolak mentah-mentah di kantor imigrasi setelah 50 menit perjalanan), and then comes ease again (perjalanan yang sama ditempuh kurang dari 30 menit).
Pengalamanku hari ini adalah satu contoh kecil dan gak penting tentang keadilan Allah yang selalu memberikan kemudahan untuk setiap kesusahan yang dialami hambanya. All we need to do is just be positive and accept bad things sincerely, then we’ll have a more sensitive heart to sense the good things that comes later.
Who’s with me about this?? :D



